Oleh: Nanang Jahidin, S.Sos.I., M.Sos.
Ketua Umum DPW BKPRMI DKI Jakarta
Pemuda masjid tidak cukup hanya menjadi penjaga rumah ibadah. Mereka harus menjadi penjaga moral bangsa, penggerak perubahan sosial, dan bagian dari solusi bagi masa depan Jakarta dan Indonesia.
Semangat Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap 28 Oktober bukan sekadar peristiwa sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sumpah Pemuda adalah panggilan untuk terus merawat persatuan, meneguhkan identitas kebangsaan, dan memastikan bahwa setiap generasi memiliki kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
Di tengah dinamika Jakarta sebagai kota metropolitan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan kebudayaan, peran pemuda menjadi semakin penting. Jakarta menghadapi beragam tantangan sosial, mulai dari persoalan karakter generasi muda, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, kesenjangan sosial, hingga kebutuhan akan ruang tumbuh yang sehat dan produktif bagi anak-anak muda.
Dalam konteks inilah, pemuda masjid harus mengambil peran lebih besar.
Masjid Harus Menjadi Pusat Pertumbuhan Pemuda
Masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembinaan karakter, penguatan spiritualitas, pendidikan, pemberdayaan sosial, dan pengembangan kepemimpinan generasi muda.
Namun, kita perlu jujur melihat kenyataan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan di semua lingkungan masjid. Masih ada masjid yang lebih banyak dipandang sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, sementara potensi pemuda, kreativitas, jejaring sosial, dan kekuatan pemberdayaannya belum terhubung secara optimal.
Sudah saatnya paradigma tersebut diperluas.
Masjid harus menjadi ruang yang ramah bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, berkarya, berorganisasi, mengembangkan keterampilan, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Pemuda masjid tidak boleh hanya hadir ketika azan berkumandang atau kegiatan keagamaan diselenggarakan. Mereka juga harus hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan, ketika anak-anak memerlukan pendampingan belajar, ketika lingkungan menghadapi persoalan kebersihan, dan ketika generasi sebaya membutuhkan dukungan untuk menjauhi perilaku negatif.
Masjid yang kuat bukan hanya masjid yang ramai oleh jamaah, tetapi juga masjid yang kehadirannya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dari Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial
Pemuda masjid memiliki modal penting berupa nilai-nilai keislaman, semangat kebersamaan, dan potensi kepemimpinan. Modal tersebut harus diterjemahkan menjadi gerakan yang memberikan manfaat nyata.
Kesalehan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga tercermin dalam kepedulian terhadap sesama, kejujuran dalam kehidupan, tanggung jawab terhadap lingkungan, serta kesediaan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Pemuda masjid harus mampu menghadirkan dakwah yang mencerahkan, merangkul, dan memberikan solusi.
Di tengah perkembangan teknologi digital, dakwah juga perlu disampaikan melalui pendekatan yang kreatif dan relevan. Media sosial dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pesan kebaikan, mengampanyekan toleransi, memperkuat literasi keagamaan, serta mengajak generasi muda terlibat dalam kegiatan positif.
Kita tidak boleh membiarkan ruang digital hanya dipenuhi konten yang memecah belah, mendorong perilaku negatif, atau menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai kemanusiaan.
Pemuda masjid harus hadir sebagai produsen gagasan dan konten yang mendidik, bukan sekadar menjadi penonton dalam perubahan zaman.
Pemuda Masjid dan Masa Depan Jakarta
Sebagai kota dengan masyarakat yang beragam dan mobilitas tinggi, Jakarta membutuhkan generasi muda yang berkarakter, kompeten, terbuka terhadap perbedaan, dan memiliki kepedulian sosial.
Pembangunan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan manusia, penguatan karakter, peningkatan kualitas pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemajuan kota.
Di sinilah pemuda masjid dapat berkontribusi melalui berbagai gerakan nyata.
Pertama, gerakan pembinaan karakter dan pencegahan kenakalan remaja melalui kegiatan kepemudaan, pendampingan, olahraga, seni, pendidikan agama, dan pengembangan keterampilan hidup.
Kedua, gerakan pemberdayaan ekonomi pemuda melalui pelatihan kewirausahaan, pengembangan UMKM, literasi keuangan, dan pemanfaatan teknologi digital.
Ketiga, gerakan kepedulian sosial dan lingkungan melalui aksi kemanusiaan, bantuan bagi kelompok rentan, pengelolaan sampah, penghijauan, dan kegiatan yang memperkuat ketahanan masyarakat.
Keempat, gerakan literasi dan kepemimpinan untuk menyiapkan pemuda masjid menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, bekerja sama, dan mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.
Kelima, gerakan persatuan dan moderasi beragama yang menempatkan perbedaan sebagai kenyataan sosial yang harus disikapi dengan kedewasaan, saling menghormati, dan semangat kebangsaan.
Berbagai gerakan tersebut harus dikembangkan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, dunia usaha, komunitas sosial, dan pengelola masjid.
Kita membutuhkan ekosistem yang menghubungkan potensi masjid dengan kebutuhan masyarakat.
Sebab, tantangan generasi muda tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi atau satu lembaga saja. Diperlukan kerja bersama, program yang berkelanjutan, serta komitmen untuk memastikan bahwa setiap pemuda memperoleh kesempatan berkembang dan berkontribusi.
BKPRMI dan Tanggung Jawab Menyiapkan Generasi Masa Depan
Bagi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), momentum Sumpah Pemuda merupakan pengingat bahwa pembinaan pemuda masjid harus terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman.
BKPRMI tidak cukup hanya menjadi penyelenggara kegiatan seremonial. Organisasi ini harus terus memperkuat perannya sebagai ruang kaderisasi, pembentukan karakter, pengembangan kepemimpinan, dan pemberdayaan pemuda berbasis masjid.
Di DKI Jakarta, upaya tersebut perlu diwujudkan melalui program-program yang terukur, berkelanjutan, dan menjawab kebutuhan generasi muda.
Kaderisasi pemuda masjid harus melahirkan generasi yang kuat spiritualitasnya, baik akhlaknya, luas wawasannya, terampil berkomunikasi, adaptif terhadap teknologi, serta mampu bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.
Kita ingin pemuda masjid menjadi generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga mampu merancang program, membangun kolaborasi, mengelola sumber daya, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Ukuran keberhasilan pembinaan bukan semata-mata jumlah kegiatan yang dilaksanakan, melainkan juga perubahan positif yang dihasilkan.
Berapa banyak pemuda yang tumbuh menjadi pemimpin berintegritas? Berapa banyak remaja yang memperoleh ruang untuk berkembang? Berapa banyak persoalan masyarakat yang dapat dibantu penyelesaiannya melalui gerakan pemuda masjid?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi bagian dari evaluasi dan arah gerakan kita ke depan.
Menjaga Semangat Sumpah Pemuda, Menggerakkan Masa Depan Indonesia
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang tidak boleh menghalangi persatuan dan cita-cita bersama.
Nilai tersebut sangat relevan bagi pemuda masjid. Mereka harus mampu menjadi jembatan komunikasi di tengah masyarakat yang beragam, membangun persaudaraan, menolak segala bentuk kekerasan, serta memperkuat komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menjadi pemuda masjid bukan berarti membatasi ruang pengabdian hanya di lingkungan masjid. Justru dari masjid, pemuda harus belajar tentang tanggung jawab untuk memberikan manfaat seluas-luasnya.
Dari masjid, mereka belajar kejujuran. Dari organisasi, mereka belajar kepemimpinan. Dari masyarakat, mereka memahami persoalan nyata. Dari kolaborasi, mereka menemukan jalan untuk menghadirkan solusi.
Semua itu merupakan bekal penting untuk membangun Indonesia yang lebih maju, adil, berkarakter, dan bermartabat.
Kita tidak sedang menyiapkan pemuda hanya untuk mengisi masa depan. Kita sedang membangun kapasitas mereka agar mampu mengambil bagian dalam menentukan arah masa depan itu sendiri.
Jakarta membutuhkan pemuda yang beriman sekaligus berdaya, religius sekaligus terbuka, berkarakter sekaligus kompeten, serta memiliki semangat pengabdian yang melampaui kepentingan pribadi dan kelompok.
Penutup: Saatnya Bergerak, Bukan Sekadar Mengenang
Pada momentum Hari Sumpah Pemuda, saya mengajak seluruh pemuda dan remaja masjid di DKI Jakarta untuk menjadikan masjid sebagai titik awal gerakan perubahan.
Mari kita hidupkan masjid dengan kegiatan yang membangun karakter. Kita kuatkan organisasi dengan kaderisasi yang berkualitas. Kita perluas pengabdian melalui program sosial yang bermanfaat. Kita bangun kolaborasi agar potensi pemuda masjid dapat memberikan dampak yang lebih besar.
Jangan biarkan semangat Sumpah Pemuda berhenti sebagai slogan di spanduk dan unggahan media sosial. Jadikan ia energi untuk bekerja, berkarya, dan mengabdi.
Sebab, masa depan Jakarta dan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau segelintir pemimpin. Masa depan bangsa adalah tanggung jawab bersama, termasuk setiap pemuda yang memilih untuk peduli dan mengambil peran.
Dari masjid kita bangun karakter. Dari Jakarta kita gerakkan perubahan. Untuk Indonesia kita kuatkan persatuan dan pengabdian.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 2026.
Pemuda Masjid untuk Jakarta dan Indonesia!
Nanang Jahidin, S.Sos.I., M.Sos.
Ketua Umum DPW BKPRMI DKI Jakarta





