Oleh : Nanang Jahidin (Ketua Umum BKPRMI DKI Jakarta)
Ada sebuah ironi dalam kehidupan anak muda hari ini: kita hidup di zaman ketika seseorang bisa terlihat hebat tanpa benar-benar melakukan sesuatu yang hebat. Cukup dengan foto yang menarik, kata-kata yang menginspirasi, dan pencapaian yang dipamerkan di media sosial, seseorang dapat memperoleh pengakuan. Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah kita benar-benar sedang bertumbuh, atau sekadar sibuk membangun kesan bahwa kita telah tumbuh?
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi generasi muda. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk melihat kembali arah perjalanan kita. Sebab, masa muda terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mengejar pengakuan, sementara kesempatan untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat justru terabaikan.
Terlihat Hebat Bukan Berarti Benar-Benar Hebat
Kita hidup di tengah budaya yang sering kali mengukur keberhasilan melalui apa yang terlihat. Jumlah pengikut, banyaknya apresiasi, kemewahan gaya hidup, hingga seberapa sering nama seseorang muncul di ruang publik seolah menjadi ukuran kesuksesan.
Tidak ada yang salah dengan pencapaian, popularitas, ataupun keinginan untuk dihargai. Setiap orang tentu ingin diakui atas kerja kerasnya. Namun, persoalannya muncul ketika pengakuan menjadi tujuan utama, bukan lagi konsekuensi dari karya dan pengabdian.
Akibatnya, sebagian anak muda lebih sibuk membangun citra daripada membangun kapasitas. Lebih bersemangat terlihat sukses daripada menjalani proses menuju kesuksesan. Bahkan, tidak jarang seseorang merasa gagal hanya karena pencapaiannya tidak semenarik pencapaian orang lain yang dilihatnya di media sosial.
Padahal, kehidupan tidak sesederhana apa yang tampil di layar. Kita sering melihat keberhasilan orang lain tanpa mengetahui perjuangan, kegagalan, dan pengorbanan yang menyertainya.
Kita perlu memahami bahwa tidak semua yang terlihat hebat benar-benar membawa manfaat. Sebaliknya, tidak semua hal yang bermanfaat harus terlihat hebat.
Seorang pemuda yang tekun belajar, seorang relawan yang membantu masyarakat tanpa mencari pujian, seorang guru yang sabar mendidik anak-anak, atau seorang remaja masjid yang menghidupkan kegiatan positif di lingkungannya mungkin tidak selalu menjadi pusat perhatian. Namun, dari kerja-kerja sederhana itulah kehidupan sering kali mengalami perubahan.
Masa Muda Adalah Waktu untuk Bertumbuh
Masa muda bukan sekadar fase untuk menikmati kebebasan. Ia adalah kesempatan untuk membangun fondasi kehidupan: memperkuat karakter, memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan, serta menemukan nilai-nilai yang akan menjadi pegangan di masa depan.
Tidak semua anak muda harus langsung sukses. Tidak semua harus memiliki jabatan, bisnis besar, atau pencapaian yang membanggakan pada usia tertentu. Setiap orang mempunyai perjalanan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa hari ini kita menjadi sedikit lebih baik daripada kemarin.
Jika belum mampu memimpin banyak orang, belajarlah memimpin diri sendiri. Jika belum mampu membantu dalam skala besar, mulailah dari lingkungan terdekat. Jika belum memiliki banyak ilmu, jangan berhenti belajar. Jika belum mempunyai sumber daya yang memadai, berikan waktu, tenaga, gagasan, dan kepedulian yang kita miliki.
Jangan meremehkan proses kecil. Pohon yang besar tidak tumbuh dalam semalam, dan karakter yang kuat tidak terbentuk hanya melalui satu pengalaman.
Sering kali, keberhasilan besar berawal dari kesediaan melakukan hal-hal sederhana secara konsisten, bahkan ketika tidak ada orang yang melihat atau memberikan tepuk tangan.
Jangan menunggu menjadi hebat untuk mulai bermanfaat. Justru dengan terus memberikan manfaat, kita sedang menumbuhkan kehebatan yang sesungguhnya.
Menjadi Bermanfaat Adalah Bentuk Kesuksesan
Dalam perspektif Islam, kehidupan tidak hanya berbicara tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab dan kemanfaatan bagi sesama.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 7, yang mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan pada hakikatnya kembali kepada diri sendiri. Pesan ini mengajarkan bahwa setiap perbuatan baik memiliki nilai, bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi pembentukan kualitas diri kita.
Rasulullah saw. juga mengajarkan pentingnya menjadi pribadi yang memberikan manfaat kepada orang lain. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, disebutkan bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Pesan tersebut memberikan ukuran kesuksesan yang lebih mendalam. Kesuksesan bukan semata-mata tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi juga tentang berapa banyak orang yang terbantu melalui kehadiran kita.
Pemuda yang hebat bukan hanya mereka yang mampu berbicara tentang perubahan, melainkan mereka yang bersedia mengambil bagian dalam mewujudkannya. Bukan hanya mereka yang pandai mengkritik keadaan, tetapi juga mereka yang mau menawarkan solusi. Bukan hanya mereka yang menginginkan masa depan lebih baik, melainkan mereka yang mulai bekerja untuk menghadirkannya.
Kita membutuhkan generasi muda yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi bergerak menuju tindakan. Generasi yang tidak sekadar menginginkan pengakuan, tetapi membangun kepercayaan. Generasi yang tidak hanya bertanya apa yang bisa diperoleh dari masyarakat, tetapi juga apa yang bisa diberikan kepada masyarakat.
Mulailah dari Lingkungan Terdekat
Menjadi bermanfaat tidak selalu menuntut sesuatu yang besar. Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat, pengusaha sukses, tokoh publik, atau pemimpin organisasi untuk memberikan kontribusi.
Kita bisa memulainya dari rumah dengan menghormati orang tua dan membantu keluarga. Di sekolah atau kampus, kita bisa menjadi teman yang mendukung, bukan merendahkan. Di lingkungan masyarakat, kita bisa ikut menyelesaikan persoalan, menjaga kebersihan, membantu warga yang membutuhkan, dan membangun kegiatan yang mempererat persaudaraan.
Bagi pemuda masjid, misalnya, masjid bukan hanya tempat untuk menjalankan ibadah, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian sosial, pendidikan, kreativitas, dan kepemimpinan. Pemuda dapat menghadirkan kegiatan yang membuat masjid semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dan generasi sebayanya.
Begitu pula di ruang digital. Media sosial tidak harus menjadi panggung untuk memamerkan kehidupan. Ia dapat menjadi sarana menyebarkan pengetahuan, mengampanyekan kebaikan, membangun solidaritas, dan menggerakkan perubahan.
Pada akhirnya, manfaat tidak ditentukan oleh seberapa besar panggung yang kita miliki, melainkan oleh kesungguhan kita menggunakan kesempatan yang ada.
Jangan merasa kecil hanya karena kontribusi kita belum luas. Sesuatu yang besar sering kali bermula dari satu tindakan baik yang dilakukan dengan ketulusan.
Warisan Terbaik Bukan Sekadar Nama
Suatu hari nanti, popularitas akan berlalu, jabatan akan berganti, dan berbagai pencapaian mungkin hanya menjadi bagian dari catatan masa lalu. Namun, kebaikan yang pernah kita lakukan dapat terus hidup dalam ingatan dan kehidupan orang-orang yang merasakannya.
Mungkin seseorang tidak lagi mengingat berapa banyak penghargaan yang pernah kita terima. Namun, ia akan mengingat siapa yang pernah membantunya ketika kesulitan. Masyarakat mungkin melupakan banyak pidato yang pernah disampaikan, tetapi mereka akan merasakan dampak dari kerja nyata yang sungguh-sungguh dilakukan.
Di situlah makna pengabdian menemukan tempatnya.
Maka, kepada setiap pemuda yang sedang menata masa depan, teruslah bermimpi besar. Bangunlah kompetensi, kejarlah prestasi, dan jangan takut untuk tampil di ruang publik. Namun, pastikan semua itu berjalan bersama integritas, kepedulian, dan keinginan untuk memberikan manfaat.
Jangan sampai kita menghabiskan bertahun-tahun hanya untuk meyakinkan dunia bahwa kita hebat, tetapi lupa melakukan sesuatu yang benar-benar berarti.
Sebab, hidup bukan sekadar tentang bagaimana orang lain melihat kita hari ini, melainkan tentang apa yang berubah menjadi lebih baik karena kita pernah hadir di tengah mereka.
Jangan habiskan masa muda hanya untuk terlihat hebat. Gunakan masa muda untuk bertumbuh, berkarya, dan menjadi bermanfaat. Sebab, kehebatan sejati tidak berhenti pada kekaguman orang lain, tetapi tumbuh dalam kebaikan yang kita tinggalkan bagi kehidupan.
Wallahualam…





