Sinergi Masjid, Pemuda, dan Negara atau Kita Hanya Jadi Penonton Sejarah?
H. Nanang Mubarok, SHI., M.Sos
Opini – Dunia hari ini tidak sekadar berisik—ia sedang retak secara sistemik. Data global menunjukkan eskalasi krisis yang tidak bisa lagi dianggap biasa. Konflik bersenjata meningkat tajam, krisis kemanusiaan meluas, dan ketimpangan ekonomi semakin ekstrem. Dalam satu tahun terakhir saja, tercatat lebih dari 240.000 kematian akibat konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Jumlah konflik bahkan mencapai level tertinggi sejak Perang Dunia II, dengan puluhan perang aktif lintas kawasan .
Lebih dari itu, dunia juga menghadapi krisis kemanusiaan yang mengkhawatirkan. Saat ini, sekitar 117 juta manusia terpaksa mengungsi akibat konflik, kekerasan, dan persekusi . Sementara itu, lebih dari 1,1 miliar manusia hidup dalam tekanan kemiskinan multidimensi, dan hampir setengahnya berada di wilayah konflik .
Ironisnya, di saat penderitaan global meningkat, ketimpangan justru semakin tajam. Laporan terbaru menunjukkan bahwa 1% orang terkaya dunia menguasai puluhan triliun dolar kekayaan, sementara bantuan global justru menurun .
Ini bukan sekadar krisis ekonomi atau politik. Ini adalah krisis moral global. Seperti pernah diingatkan oleh Sekjen PBB, dunia sedang memasuki “era baru konflik dan kekerasan”—sebuah fase di mana sistem global gagal menjaga kemanusiaan
Sinergi Masjid, Pemuda, dan Negara atau Kita Hanya Jadi Penonton Sejarah?
Opini – Dunia hari ini tidak sekadar berisik—ia sedang retak secara sistemik. Data global menunjukkan eskalasi krisis yang tidak bisa lagi dianggap biasa. Konflik bersenjata meningkat tajam, krisis kemanusiaan meluas, dan ketimpangan ekonomi semakin ekstrem. Dalam satu tahun terakhir saja, tercatat lebih dari 240.000 kematian akibat konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Jumlah konflik bahkan mencapai level tertinggi sejak Perang Dunia II, dengan puluhan perang aktif lintas kawasan .
Lebih dari itu, dunia juga menghadapi krisis kemanusiaan yang mengkhawatirkan. Saat ini, sekitar 117 juta manusia terpaksa mengungsi akibat konflik, kekerasan, dan persekusi . Sementara itu, lebih dari 1,1 miliar manusia hidup dalam tekanan kemiskinan multidimensi, dan hampir setengahnya berada di wilayah konflik .
Ironisnya, di saat penderitaan global meningkat, ketimpangan justru semakin tajam. Laporan terbaru menunjukkan bahwa 1% orang terkaya dunia menguasai puluhan triliun dolar kekayaan, sementara bantuan global justru menurun .
Ini bukan sekadar krisis ekonomi atau politik. Ini adalah krisis moral global. Seperti pernah diingatkan oleh Sekjen PBB, dunia sedang memasuki “era baru konflik dan kekerasan”—sebuah fase di mana sistem global gagal menjaga kemanusiaan
Indonesia: Pemain atau Sekadar Pasar Global?
Di tengah lanskap global yang rapuh ini, posisi Indonesia menjadi krusial. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan tradisi moderasi yang kuat, Indonesia memiliki legitimasi moral untuk tampil sebagai penyeimbang.
Namun realitasnya, kita masih sering terjebak dalam posisi pasif:
menjadi pasar bagi kekuatan ekonomi global
menjadi penonton konflik geopolitik
bahkan rentan terseret dalam polarisasi global
Pertanyaannya tegas: Apakah kita akan menjadi pemain atau sekadar pasar global? Apakah Indonesia akan menentukan arah, atau justru ditentukan oleh kekuatan lain?
Idul Fitri: Momentum Geopolitik yang Terlupakan
Idul Fitri sering dipersempit menjadi momentum spiritual personal. Idul Fitri seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Padahal, dalam perspektif peradaban, Idul Fitri adalah titik reset kolektif. Idul Fitri adalah momentum koreksi arah—baik secara spiritual maupun geopolitik.
Fitrah bukan hanya tentang kembali suci, tetapi tentang:
meluruskan arah bangsa
memperkuat kompas moral
dan menegaskan keberpihakan pada kemanusiaan
Jika Idul Fitri hanya melahirkan konsumsi dan euforia, maka kita kehilangan peluang strategis untuk reposisi bangsa di tengah krisis global.
Masjid: Dari Ruang Ritual ke Pusat Geopolitik Umat
Sejarah mencatat: peradaban Islam lahir dari masjid. Namun hari ini, banyak masjid tercerabut dari realitas global.
Padahal, di tengah dunia yang kehilangan arah, masjid harus menjadi:
pusat literasi geopolitik umat
pusat advokasi kemanusiaan global
pusat penguatan ekonomi berbasis keadilan
Ketika lebih dari 80% pengungsi dunia berasal dari wilayah konflik, maka masjid tidak boleh diam. Masjid harus menjadi suara bagi yang tidak bersuara. Masjid harus menjadi pembela bagi yang tertindas. Jika tidak, kita sedang membiarkan agama kehilangan relevansinya dalam realitas global.
Pemuda: Generasi Penentu atau Generasi Terseret?
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Namun sejarah dunia menunjukkan: bonus demografi tanpa arah sering berubah menjadi bom waktu sosial.
Di era digital, pemuda hidup dalam arus informasi global yang tidak netral. Polarisasi, propaganda, hingga perang narasi menjadi bagian dari strategi geopolitik modern.
Jika tidak dibekali kesadaran, pemuda bisa menjadi:
korban disinformasi
alat kepentingan global
bahkan pelaku konflik sosial
Sebaliknya, jika diarahkan, pemuda bisa menjadi:
agen perdamaian global
motor ekonomi umat
penjaga keutuhan bangsa
Di sinilah peran strategis pemuda masjid—seperti yang dihimpun dalam Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)—menjadi sangat vital: mengubah energi demografi menjadi kekuatan peradaban.
Pemuda harus menjadi agen perubahan, bukan korban arus global. Dengan bonus demografi, Indonesia memiliki peluang besar—namun tanpa arah, ia bisa menjadi bencana sosial.
Negara: Netral yang Berani atau Netral yang Lemah?
Dalam dunia yang terfragmentasi, politik luar negeri “bebas aktif” harus naik kelas. Tidak cukup hanya netral—Indonesia harus berani secara moral. Karena netralitas tanpa keberpihakan pada keadilan adalah bentuk lain dari ketidakpedulian.
Negara harus berani mengambil posisi. Netralitas tidak boleh berarti pasif. Indonesia harus aktif dalam diplomasi kemanusiaan dan memperkuat kemandirian nasional.
Indonesia harus:
tampil lebih tegas dalam diplomasi kemanusiaan
aktif meredam konflik global
memperkuat kemandirian ekonomi agar tidak menjadi objek tekanan
Jika tidak, kita hanya akan menjadi arena perebutan pengaruh global, bukan pemain utama.
Merajut Fitrah Bangsa: Agenda Peradaban, Bukan Retorika
Di tengah krisis global yang kompleks, merajut fitrah bangsa bukan lagi pilihan—melainkan keharusan sejarah. Merajut fitrah bangsa adalah agenda peradaban. Ia membutuhkan sinergi antara masjid, pemuda, dan negara.
Fitrah bangsa Indonesia adalah nilai:
Ketuhanan
Kemanusiaan
Persatuan
Keadilan
Namun nilai-nilai ini tidak akan hidup jika tidak diinstitusikan dalam:
kebijakan negara
gerakan sosial
dan kesadaran kolektif umat
Sinergi antara masjid, pemuda, dan negara menjadi satu-satunya jalan. Tanpa itu, kita akan kalah oleh dunia yang bergerak cepat dan tanpa arah moral.
Dunia Menunggu, Indonesia Menentukan
Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kekuatan—ia membutuhkan arah. Dunia sedang menunggu arah. Indonesia harus menentukan.
Indonesia memiliki semua prasyarat:
populasi besar
tradisi moderasi
kekuatan sosial keagamaan
dan legitimasi moral global
Namun semua itu tidak berarti apa-apa tanpa keberanian menentukan arah. Idul Fitri adalah momentum. Bukan sekadar kembali ke nol—tetapi melompat ke peran global.
Sejarah sedang ditulis. Dan seperti semua zaman besar, ia hanya akan mencatat dua jenis bangsa: Mereka yang menentukan arah, dan mereka yang ditentukan oleh keadaan. Sejarah hanya mencatat mereka yang berani mengambil peran.
Indonesia harus memilih. Sekarang.





