Santri Berdaya, Jakarta Berjaya: Dari Pesantren untuk Masa Depan Ibu Kota
Oleh: Nanang Jahidin, S.Sos.I., M.Sos.
Ketua Umum DPW BKPRMI DKI Jakarta
Jakarta tidak hanya membutuhkan gedung-gedung tinggi, transportasi modern, dan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Jakarta juga membutuhkan manusia yang berintegritas, generasi muda yang berkarakter, serta masyarakat yang memiliki kepedulian sosial dan semangat gotong royong. Di sinilah santri memiliki peran penting dalam perjalanan pembangunan Jakarta.
Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, Hari Santri merupakan pengingat bahwa nilai-nilai keagamaan, keilmuan, perjuangan, dan pengabdian harus terus hadir dalam menjawab tantangan zaman.
Santri bukan hanya bagian dari sejarah bangsa. Santri adalah bagian dari masa depan Indonesia, termasuk masa depan Jakarta.
Santri dan Tantangan Jakarta sebagai Kota Global
Sebagai kota yang terus berkembang, Jakarta menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan global, kesenjangan sosial, persoalan lingkungan, penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, hingga krisis keteladanan di kalangan generasi muda merupakan persoalan yang tidak cukup diselesaikan hanya dengan pembangunan fisik.
Kita membutuhkan pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat perubahan. Pembangunan yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk akhlak. Pembangunan yang tidak hanya mengejar kemajuan ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial.
Dalam konteks inilah santri memiliki relevansi yang sangat kuat.
Pendidikan pesantren mengajarkan pentingnya ilmu, kedisiplinan, kemandirian, penghormatan kepada guru, kesederhanaan, serta tanggung jawab terhadap masyarakat. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat dibutuhkan untuk membangun Jakarta yang maju sekaligus beradab.
Jakarta boleh menjadi kota global, tetapi kemajuan itu harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, keadilan, toleransi, dan akhlak mulia.
Kita ingin Jakarta menjadi kota yang modern infrastrukturnya, maju ekonominya, cerdas masyarakatnya, dan kuat karakter warganya.
Santri Harus Hadir dalam Pembangunan Jakarta
Sudah saatnya santri dipandang bukan semata-mata sebagai peserta pendidikan agama, melainkan sebagai sumber daya manusia yang memiliki potensi besar dalam pembangunan daerah.
Setidaknya ada lima peran strategis yang dapat dimainkan santri untuk masa depan Jakarta.
Pertama, menjadi pelopor pembangunan karakter generasi muda.
Santri memiliki bekal nilai keagamaan dan pendidikan akhlak yang dapat ditransformasikan menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat. Mereka dapat menjadi teladan dalam membangun budaya antitawuran, menjauhi narkoba, mencegah perundungan, serta mengembangkan pergaulan yang sehat dan produktif.
Masjid, pesantren, sekolah, dan komunitas pemuda harus menjadi ruang kolaborasi untuk membangun generasi Jakarta yang beriman, berilmu, berkarakter, dan memiliki masa depan.
Kedua, menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat.
Santri tidak boleh berhenti pada aktivitas belajar dan beribadah. Mereka harus mampu hadir membantu masyarakat, menggerakkan kegiatan sosial, mendampingi anak-anak yang membutuhkan pendidikan tambahan, membantu kelompok rentan, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat khidmah atau pengabdian yang tumbuh dalam tradisi pesantren harus diterjemahkan menjadi gerakan sosial yang menjawab kebutuhan nyata warga Jakarta.
Ketiga, menjadi pelaku ekonomi kreatif dan kewirausahaan.
Jakarta membutuhkan generasi muda yang mandiri secara ekonomi dan mampu menciptakan lapangan kerja. Santri harus didorong untuk menguasai teknologi digital, memahami kewirausahaan, mengembangkan UMKM, serta memanfaatkan ekonomi kreatif sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Santri masa kini harus mampu memadukan kedalaman ilmu agama dengan kecakapan profesional.
Kita ingin melahirkan santri yang tidak hanya mampu berdakwah dari mimbar, tetapi juga mampu membangun usaha, membuka lapangan pekerjaan, mengembangkan inovasi, dan memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungannya.
Keempat, menjadi penjaga persatuan dan kerukunan di tengah keberagaman Jakarta.
Jakarta merupakan rumah bagi masyarakat dengan beragam latar belakang suku, budaya, agama, dan kondisi sosial. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, santri harus mampu menampilkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Santri perlu menjadi pelopor dialog, menghormati perbedaan, menolak kekerasan atas nama agama, dan memperkuat persaudaraan kebangsaan.
Semangat keagamaan harus berjalan seiring dengan semangat kebangsaan. Ketaatan dalam beragama harus melahirkan kepedulian terhadap sesama manusia.
Kelima, menjadi inovator dakwah dan pembangunan berbasis masjid.
Di tengah perubahan zaman, dakwah tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Santri dan pemuda masjid perlu menguasai literasi digital, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menghadirkan konten keagamaan yang mencerahkan dan relevan bagi generasi Z.
Masjid juga perlu diperkuat sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, layanan sosial, pembinaan keluarga, dan pengembangan kepemimpinan pemuda.
Jika masjid-masjid di Jakarta saling terhubung dan berkolaborasi, potensi besar umat dapat dihimpun untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Dari masjid, lahir generasi yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan kotanya.
BKPRMI dan Gerakan Santri Membangun Jakarta
Sebagai organisasi yang berfokus pada komunikasi dan koordinasi pemuda remaja masjid serta pengembangan dakwah, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) memiliki tanggung jawab untuk memperkuat peran generasi muda Islam dalam pembangunan Jakarta.
Hari Santri harus menjadi momentum untuk membangun sinergi antara pesantren, masjid, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.
Kita perlu memperluas ruang kolaborasi agar santri dan pemuda masjid mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan, mengembangkan keterampilan, memperkuat literasi digital, membangun usaha, serta terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan.
BKPRMI DKI Jakarta memandang bahwa pembinaan generasi muda tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Diperlukan program yang berkelanjutan, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Santri dan pemuda masjid harus diberikan ruang untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan Jakarta. Mereka harus dilibatkan dalam gerakan sosial, pembinaan remaja, pemberdayaan ekonomi umat, pelestarian lingkungan, dan penguatan kehidupan beragama yang damai.
Dengan demikian, Hari Santri tidak hanya diperingati melalui upacara dan perlombaan, tetapi juga diwujudkan melalui kerja nyata yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Dari Jakarta untuk Indonesia Emas 2045
Menuju Indonesia Emas 2045, Jakarta membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga kokoh dalam nilai moral dan spiritual.
Santri memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari generasi tersebut. Namun, peluang itu harus didukung dengan pendidikan yang berkualitas, akses terhadap teknologi, keterampilan masa depan, kesempatan berwirausaha, dan ruang partisipasi dalam pembangunan.
Kita tidak boleh membiarkan santri tertinggal dalam arus transformasi digital. Sebaliknya, kita harus memastikan bahwa santri mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas, akhlak, dan nilai-nilai keislamannya.
Santri yang menguasai ilmu pengetahuan, berakhlak mulia, melek teknologi, mandiri secara ekonomi, dan peduli terhadap masyarakat merupakan aset strategis bagi masa depan Jakarta.
Karena itu, investasi pada pendidikan dan pemberdayaan santri sesungguhnya merupakan investasi bagi masa depan bangsa.
Santri Berdaya, Jakarta Berjaya
Hari Santri harus menjadi momentum untuk memperbarui komitmen kita bahwa pembangunan Jakarta bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk santri, pesantren, dan pemuda masjid.
Mari kita bangun Jakarta dengan ilmu, kita rawat dengan akhlak, kita majukan dengan inovasi, dan kita kuatkan dengan semangat pengabdian.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan semata-mata seberapa tinggi gedung yang berdiri, melainkan juga seberapa kuat karakter manusianya, seberapa besar kepedulian sosialnya, dan seberapa luas manfaat yang dirasakan masyarakatnya.
Santri tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan. Santri harus menjadi pelaku, penggerak, sekaligus penjaga nilai dalam pembangunan Jakarta.
Dari pesantren kita belajar tentang ilmu dan pengabdian. Dari masjid kita membangun persaudaraan dan pemberdayaan. Dari Jakarta kita buktikan bahwa kemajuan kota dapat berjalan beriringan dengan kemuliaan akhlak.
Selamat Hari Santri Nasional.
Santri Berdaya, Jakarta Berjaya. Dari Masjid untuk Jakarta, dari Jakarta untuk Indonesia.
Nanang Jahidin, S.Sos.I., M.Sos.
Ketua Umum DPW BKPRMI DKI Jakarta





