Tiga Masalah Pemuda Urban Hari Ini dan Solusinya

Oleh: Nanang Jahidin, Ketua Umum BKPRMI DKI Jakarta

Jakarta hari ini terlihat gemerlap. Gedung menjulang, kafe penuh, dan media sosial dipenuhi gaya hidup anak muda yang seolah “baik-baik saja”. Tapi izinkan saya jujur: di balik semua itu, kita sedang menghadapi krisis pemuda yang nyata, dan kita terlalu lama menutup mata.

Sebagai Ketua Umum BKPRMI DKI Jakarta, saya melihat langsung realitas ini di lapangan. Kita tidak sedang kekurangan pemuda pintar. Kita sedang kekurangan pemuda yang punya arah, punya pegangan, dan punya ruang untuk tumbuh dengan benar.

Ada tiga masalah besar yang hari ini menggerogoti pemuda urban, dan kalau tidak kita selesaikan sekarang, kita sedang menyiapkan masalah sosial yang lebih besar di masa depan.

1. Hidup Cepat, Tapi Tanpa Arah

Banyak pemuda Jakarta hari ini sibuk, tapi kosong.
Aktif, tapi tidak produktif.
Terlihat sukses, tapi kehilangan makna.

Media sosial telah menciptakan standar palsu tentang kesuksesan. Semua ingin terlihat “jadi”, tapi sedikit yang mau berproses. Akibatnya? Lahir generasi yang mudah cemas, gampang menyerah, dan terus merasa kurang.

Ini bukan sekadar fenomena, ini krisis arah.

Solusi:
Pemuda harus kembali punya visi hidup. Dan di sinilah peran masjid harus dihidupkan kembali, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi sebagai pusat pembinaan karakter dan kepemimpinan. BKPRMI hadir untuk memastikan pemuda tidak berjalan tanpa kompas.

2. Dekat dengan Gadget, Jauh dari Tuhan

Kita hidup di zaman di mana pemuda lebih sering menunduk ke layar daripada menengadah dalam doa.

Ini realita yang pahit, tapi nyata.

Kesibukan kota, tekanan hidup, dan gaya hidup modern membuat nilai spiritual semakin terpinggirkan. Padahal, tanpa kekuatan ruhani, pemuda akan mudah rapuh, sedikit masalah bisa membuat mereka runtuh.

Dan hari ini, kita mulai melihat gejalanya: kegelisahan, kehilangan makna hidup, hingga pelarian ke hal-hal negatif.

Solusi:
Kita tidak bisa hanya menyuruh pemuda “kembali ke masjid” tanpa menghadirkan masjid yang hidup. Masjid harus ramah pemuda, aktif, dan relevan. BKPRMI mendorong masjid menjadi pusat aktivitas, tempat belajar, berdiskusi, berkarya, dan bertumbuh.

3. Energi Besar, Tapi Salah Arah

Pemuda itu penuh energi. Tapi energi tanpa arah adalah bahaya.

Tawuran, kenakalan remaja, bahkan sekadar menghabiskan waktu tanpa tujuan, itu bukan karena pemuda tidak punya potensi. Tapi karena mereka tidak punya ruang yang benar.

Jangan hanya menyalahkan pemuda. Tanyakan juga: sudahkah kita memberi mereka ruang untuk tumbuh?

Solusi:
Berikan pemuda panggung. Libatkan mereka. Percayakan mereka.
Melalui BKPRMI, kami terus mendorong program yang memberi ruang ekspresi positif, dari kegiatan sosial, dakwah kreatif, hingga pengembangan kepemimpinan.

Pemuda tidak butuh sekadar dinasihati. Mereka butuh dilibatkan.

Penutup: Ini Bukan Sekadar Opini, Ini Peringatan

Kita tidak bisa lagi menunda.

Jika hari ini pemuda kehilangan arah, maka besok kota ini akan kehilangan masa depan.

Saya, Nanang Jahidin, Ketua Umum BKPRMI DKI Jakarta, mengajak semua pihak: pemerintah, tokoh masyarakat, orang tua, dan seluruh elemen bangsa, untuk berhenti saling menyalahkan dan mulai bergerak bersama.

Bangun ekosistem yang sehat. Hidupkan masjid. Rangkul pemuda.

Karena satu hal yang pasti:
Jakarta tidak akan hancur karena kurangnya pembangunan, tapi bisa runtuh karena gagalnya kita membina generasi mudanya.

Wallahualam

Admin bkprmi Jakarta
Author

Admin bkprmi Jakarta

BKPRMI DKI Jakarta siap kolaborasi dan sinergi untuk Pembinaan dan Pengembangan Potensi Pemuda Remaja Masjid, Pemberantasan buta huruf AlQur'an, dan sosial masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com